Thursday, May 31, 2012

Tata Tertib Guru/pegawai Proli Tek. AV

Contoh Tata Tertib Guru/Pegawai Program Keahlian Teknik Audio Video

Sahabat guru yang berbahagia, berikut ini adalah informasi contoh membuat tata tertib guru program keahlian Teknik Audio Video yang dirancang khusus untuk mencukupi peraturan khusus dari program keahlian itu sendiri (program ini berada dibawah peraturan sekolah/tidak bertentangan dengan peraturan diatasnya).

TATA TERTIB GURU/PEGAWAI PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK AUDIO VIDEO

  1. KEWAJIBAN :
    1. Wajib menjaga kode etik keguruan.
    2. Wajib hadir 10 menit sebelum KBM dimulai bagi guru dan 30 menit sebelum KBM dimulai bagi Wakasek dan Staf.
    3. Wajib menggunakan seragam guru yang telah ditentukan.
    4. Berpenampilan rapih dan sopan.
    5. Wajib menandatangani daftar hadir / absensi.
    6. Masuk dan keluar kelas tepat waktu (sesuai jam pelajaran).
    7. Memberitahukan kepada Kepala Sekolah bila berhalangan hadir dan menyampaikan tugas untuk siswa.
    8. Menyiapkan program pembelajaran pada awal tahun pelajaran.
    9. Menyerahkan perangkat pembelajaran pada setiap semester dan akhir tahun pelajaran.
    10. Turut mengamankan kebijakan Kepala Sekolah.
    11. Membantu menegakkan disiplin sekolah.
    12. Peduli terhadap kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah.
    13. Tidak merokok di lingkungan sekolahkecuali di tempat yang telah ditentukan.
    14. Menjalin hubungan kekeluargaan sesama warga sekolah.
    15. Memiliki loyalitas dan dedikasi yang tinggi.
    16. Siap melaksanakan tugas yang diberikan oleh pimpinan sekolah.
    17. Memberi laporan pelaksanaan tugas yang telah dilaksanakan kepada Kepala Sekolah melalui Kaprodi.
    18. Guru Kejuruan TAV diwajibkan:
      • mengenakan seragam bengkel,
      • mempersiapkan peralatan dibantu juru bengkel kejuruan TAV,
      • menjaga keamanan dan ketertiban saat praktek (K3),
      • mempersipakan jobsheet dan perangkat penilaian praktek,
      • membuat laporan perkembangan praktek harian.
  2. LARANGAN :
    1. Dilarang meninggalkan sekolah pada waktu mengajar, tanpa seizin atasan.
    2. Dilarang melakukan hal-hal yang dapat menurunkan martabat Guru dan eksistensi sekolah.
    3. Dilarang menggunakan barang-barang milik sekolah untuk kepentingan pribadi tanpa izin Kepala Sekolah.
  3. KEWAJIBAN PEGAWAI
    1. Metantaati ketentuan jam kerja.
    2. Menanda tangani daftar hadir.
    3. Melaksanakan tugas kedinasan dengan sebaik-baiknya dengan penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab.
    4. Memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat sesuai bidang tugasnya masing-masing.
    5. Dapat menciptakan suasana kerja yang kondusif.
    6. Berpakaian yang rapih dan sopan.
    7. Mentaati perintah kedinasan dari atasannya.
    8. Saling menghormati sesama pegawai dan guru.
    9. Menjaga nama baik profesi dan organisasi sekolah.
    10. Dapat menyimpan rahasia Negara/Sekolah.
    11. Jika tidak masuk kerja harus seizin atasan.
    12. Tidak merokok di lingkungan sekolah kecuali di tempat yang telah ditentukan.
  4. LARANGAN :
    1. Dilarang meninggalkan tempat tugas tanpa izin atasan.
    2. Dilarang melakukan hal-hal yang dapat menurunkan martabat sekolah.
    3. Dilarang menggunakan barang-barang milik sekolah untuk kepentingan pribadi tanpa izin Kepala Sekolah.


Kebumen, 10 Juli 2011


Mengetahui,

Kepala Sekolah                                                               Ka. Proli. Keahlian T. AV





(.....................................)                                                (............................................)
      NIP.:..................                                                                    NIP.: .......................






Join wazzub Now

Kumpulan Situs Software Downloader

Kumpulan Situs Software Downloader

Apa khabarnya sahabatku semuanya, berikut ini akan saya informasikan beberapa situs software download yang mungkin Anda butuhkan. Silahkan kopy alamat pada software yang Anda cari pada browser yang ada. Untuk mempercepat aksesnya saya sarankan menggunakan software downloader (DM) dan google chrome sebagai peramban tercepat saat ini.

  1. Adobe Reader Download (fungsinya membaca file ebook berformat pdf)
  2. PrimoPDF Download (fungsinya membuat file ebook berformat pdf)
  3. Rapid Typing Tutor Download (fungsinya belajar mengetik cepat)
  4. BricoPack Vista Inspirat Ultimate Download (fungsinya merubah tampilan windows XP ke Vista)
  5. Photobie Download (fungsinya versi freeware saingan adobe photoshop)
  6. IZArc Download (fungsinya compression tool terbaik, versi duniadownload)
  7. Free and Easy Biorhythm Calculator Download (fungsinya software untuk meramal)
  8. XnView Download (fungsinya pengelola lebih dari 400 jenis file gambar)
  9. AVG AntiVirus Free Download (fungsinya antivirus yang telah digunakan oleh lebih dari 50 juta orang di dunia)
  10. Winamp Download (fungsinya software pemutar musik terpopuler)
  11. BioniXWallpaper Download (fungsinya perubah tampilan desktop background otomatis)
  12. Free Screen Hunter Download (ahlinya pembuat screenshot dari tampilan layar computer)
  13. Download Accelerator Plus Download (fungsinya meningkatkan kecepatan download)
  14. CCleaner Download (fungsinya penghilang file file tidak berguna dari sistem komputer)
  15. Ad-Aware Free Download (fungsinya software anti spyware terpopuler di dunia)
  16. Smadav Anti Virus Download (fungsinya antivirus lokal kebanggaan indonesia)
  17. Youtube Downloader Download (fungsinya untuk mendownload video dari youtube)
  18. FLV Player Download (fungsinya pemutar file berformat flv/flash video)
  19. GOM Player Download (fungsinya pemutar file video paket komplit)
  20. Mozilla Firefox Download (fungsinya browser internet terpopuler)
  21. Google Earth Download (fungsinya jelajahi dunia melalui internet)
  22. CD Burner XP Download (fungsinya pem'burn CD & DVD gratis)
  23. Quran Auto Reciter Download (fungsinya belajar membaca sambil mendengarkan Al-Quran)
  24. Camstudio Download (fungsinya perekam aktivitas di layar komputer)
  25. CD Burner XP Download (fungsinya untuk membakar CD pada program winXP)

  26. Download cpanel dan WHM Download atau disini Download Mirror dan disini alternatif lain Download
  27. Macromedia Firework 8 download 02 Download atau Download
  28. CyberLink PowerDVD version 8 free download Download
  29. Free download cPanel and WHM 11 Download
  30. Dr Web Antivirus v4 free download Download
  31. Free Download Big Pack Worpdress Theme (7 in 1) Download
  32. Macromedia fireworks 8 portable free download search file Free [review] Download
  33. Macromedia Studio 8 Full free Free Full Download Crack Serial [review] Download
  34. Macromedia Studio 8 dovnald torent free Free Full Download [review]Download

Demikian info saya kali ini semoga bermanfaat, sumber dari infogue.com.

Sumber :
FREE EBOOK

Join wazzub Now

Wednesday, May 30, 2012

Membuat Tag Hover dengan CSS 3

Format Aplikasi dan Verifikasi NUPTK

Berikut ini ada info yang menarik untuk membuat tag hover agar penampilan blog kita semakin menarik dengan CSS3, ingin tahu caranya? mudah saja, ikuti tag berikut ini untuk mengganti tag hover (biasanya tag ini diawali dengan perintah a:hover) milik Anda silahkan menuju pada perubahan template Anda dan editlah seperti tag HTML berikut ini (peringatan: simpan template Anda sebelum melakukan perubahan).

Sekedar catatan, Anda bisa mengedit jenis font dan ukuran font serta warna hover atau lainnya sesuai dengan template Anda. Demikian info dari saya semoga bermanfaat, jika perintah tag hover belum terjadi perubahan ada kemungkinan Anda belum mengaktifkan script "jqueryminjs versi 1.3.2". Silahkan pasangkan jqueryminjs berikut ini diatas tag <head> pada template Anda.


Join wazzub Now

Tuesday, May 29, 2012

Membuat Mode Auto Tooltip

Membuat Mode Auto Tooltip

Apa khabar penggemarku semuanya, selamat berjumpa lagi pada posting info kali ini untuk menumpahkan rasa gembira yang tiada terkira bahwa hari ini saya telah memperoleh auto tooltip dari Warung Internet yang telah memberikan ilmunya luar biasa hebatnya seperti Anda saksikan setiap link mengandung tooltip otomatis tanpa harus mensetting ulang setiap link, Anda tinggal pasang scriptnya dan jadilah. Pada info kali ini akan saya sampaikan bagaimana cara membuatnya dengan sedikit modifikasi pada posisi cssnya, Anda teratarik untuk membuatnya? ikuti info berikut ini.

Demikian info dari saya semoga bermanfaat, pesan saya jangan rubah link milik warungbebas.com yang ada, terima kasih atas kunjungannya dan berikan komen untuk perkembangan blog ini. Mari berbagi ilmu dan info yang manfaat. Terimakasih kepada warungbebas.com yang telah share ilmunya.


Sumber : http://www.warungbebas.com/2011/02/otomatisasi-tooltip-link-gambar-akronim.html

Join wazzub Now

Monday, May 28, 2012

Perihal Baru Pada HTML5

Perihal Baru Pada HTML5

Sahabatku semuanya, ada berita yang menggembirakan dari para pengembang HTML5 dalam penerapannya di internet. HTML5 dalam pengembangan bahasa HTML untuk pembaharuan teknologi multimedia yang sudah ada pada HTML versi sebelumnya dapat dijalankan oleh browser dan mudah dipahami. HTML5 dikembangkan atas kerjasama antara World Wide Web Consortium (W3C) dan Web Hypertext Application Teknologi Working Group (WHATWG). WHATWG bekerja dengan bentuk web dan aplikasi, dan W3C bekerja dengan XHTML. Hal-hal yang baru sebagaimana dipublish oleh http://www.w3schools.com yang menjadi sumber naskah, sebagaimana daftar dibawah. Info saya tayangkan untuk menjadikan khasanah baru bagi saya khususnya dan untuk kita pengguna HTML5, agar ikut serta mengembangkan dan paling tidak berpartisipasi menjadi penggunanya karena memang telah terbukti bahwa dengan HTML5 sangat ringan dan cepat untuk diakses, apalagi bagi para pengguna software audio video. Mari kita belajar lebih maju untuk menuju perkembangan yang spektakuler, mendorong kita untuk berpacu dengan ilmu dan teknologi. Adapun perhal tag-tag yang baru dari HTML5 sebagaimana dalam daftar berikut ini:

Daftar element/Tags Baru di HTML5

  1. Semantic / Struktural Elemen
  2. No
    Tag
    Deskripsi
    1
    <article>Mendefinisikan sebuah artikel
    2
    <aside>Mendefinisikan isi selain dari konten halaman
    3
    <bdi>Mengisolasi bagian dari teks yang dapat diformat dalam arah yang berbeda dari teks lain di luar itu
    4
    <command>Mendefinisikan sebuah tombol perintah bahwa seorang pengguna dapat meminta
    5
    <details>Mendefinisikan rincian tambahan bahwa pengguna dapat melihat atau menyembunyikan
    6
    <summary>Mendefinisikan sebuah judul terlihat untuk elemen (details)
    7
    <figure>Menentukan mandiri konten, seperti ilustrasi, diagram, foto, daftar kode, dll
    8
    <figcaption>Mendefinisikan sebuah caption untuk elemen (figure)
    9
    <footer>Mendefinisikan sebuah footer untuk dokumen atau bagian
    10
    <header>Mendefinisikan sebuah header untuk dokumen atau bagian
    11
    <hgroup>Grup satu set <h1> untuk elemen <h6> ketika pos memiliki beberapa tingkat
    12
    <mark>Mendefinisikan teks ditandai / disorot
    13
    <meter>Mendefinisikan sebuah pengukuran skalar dalam kisaran dikenal (gauge)
    14
    <nav>Mendefinisikan navigasi link
    15
    <progress>Merupakan kemajuan tugas
    16
    <ruby>Mendefinisikan sebuah penjelasan ruby (untuk tipografi Asia Timur)
    17
    <rt>Mendefinisikan sebuah penjelasan / pengucapan karakter (untuk tipografi Asia Timur)
    18
    <rp>Mendefinisikan apa yang harus ditampilkan dalam browser yang tidak mendukung penjelasan ruby
    19
    <section>Mendefinisikan sebuah bagian dalam sebuah dokumen
    20
    <time>Mendefinisikan tanggal / waktu
    21
    <span>Mendefinisikan sebuah kemungkinan garis-break

  3. Media Elemen dan Canvas
  4. No
    Tag
    Deskripsi
    22
    <audio>Mendefinisikan isi suara
    23
    <video>Mendefinisikan sebuah video atau film
    24
    <source>Mendefinisikan beberapa sumber daya media untuk (video) dan (audio)
    25
    <embed>Mendefinisikan sebuah wadah untuk aplikasi luar atau konten interaktif (plug-in)
    26
    <track>Mendefinisikan teks untuk trek (video) dan (audio)
    27
    <canvas>Digunakan untuk menggambar grafik, dengan cepat, melalui scripting (JavaScript biasanya)

  5. Form Elements
  6. No
    Tag
    Deskripsi
    28
    <audio>Mendefinisikan isi suara
    29
    <datalist>Menetapkan daftar yang telah ditentukan pilihan untuk kontrol input
    30
    <keygen>Mendefinisikan sebuah field kunci-pasangan generator (untuk bentuk)
    31
    <output>Mendefinisikan hasil perhitungan

  7. Hal Yang dihapus dari HTML5
    1. <acronym>
    2. <applet>
    3. <basefont>
    4. <big>
    5. <center>
    6. <dir>
    7. <font>
    8. <frame>
    9. <frameset>
    10. <noframes>
    11. <strike>
    12. <tt>
    13. <u>

Demikian info saya kali ini semoga bermanfaat, jika Anda terdapat pengalaman lain silahkan berikan pengalaman Anda pada komentar dibawah ini. Dalam rangka upgrade ke HTML5 saya masih belajar dan terdapat perintah yang seharusnya sudah tidak digunakan tapi masih juga saya gunakan karena keterbatasan saya. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.

Join wazzub Now

Sunday, May 27, 2012

Perangkat Pembelajaran KKPI Ke Dua

Perangkat Pembelajaran KKPI Ke Dua

Info Toko Surya62

Sahabat Guru yang berbahagia, info berikut ini akan saya share tentang Rancangan Perangkat Pembelajaran KKPI yang layaknya dipersiapkan setiap tahun ajaran baru. Saya bagikan dengan Anda dengan harapan dapat tukar pengalaman dalam khasanah pembelajaran KKPI khususnya setingkat SMK.

Adapun perangkat tersebut yang perlu dipersiapkan diantaranya:

  1. Kalender Pendidikan;
  2. Perhitungan Minggu efektif;
  3. Peta Kompetensi Dasat berdasarkan Standar Kompetensi;
  4. Rencana Alokasi Waktu ditinjau persemester;
  5. Program Tahunan (Prota);
  6. Program Semester (Promes);
  7. Analisis Kebutuhan Alat/Media dan sumber belajar;
  8. RPP;
  9. Peta Mengajar berdasarkan Daftar Hadir Siswa;
  10. Tingkat Daya serap siswa;
  11. Target Pencapaian Kurikulum;
  12. KKM;
  13. Agenda Mengajar Harian;
  14. Rencana Program Pengayaan;
  15. Daftar Hambatan Belajar Siswa;
  16. Daftar Nilai;

Sahabat semuanya, telah saya terbitkan sebagian dari perangkat dimaksud, berikut ini akan saya berikan beberapa contoh perangkat diatas, sekiranya dapat dipelajari , ditelaah dan dimodifikasi sesuai keadaan setiap tahunnya, sebagai berikut (untuk download silahkan klik screenshootnya):

  1. Pencapaian Target Kurikulum screenshoot;
  2. Daftar Hadir Siswa screenshoot;
  3. Program Pengayaan screenshoot;

Sahabat semuanya, mengingat ada krodit sedikit tentang beberapa hal diantaranya loading yang lama, maka contoh-contoh perangkat pembelajaran KKPI akan saya pisahkan dalam beberapa tayangan posting dalam blog ini. Ikuti terus updatenya dan mari berbagi untuk info manfaat, terima kasih.

Saturday, May 26, 2012

Perangkat Pembelajaran KKPI Ke Satu


Perangkat Pembelajaran KKPI Ke Satu


Sahabat Guru yang berbahagia, berikut ini akan saya share tentang Rancangan Perangkat Pembelajaran KKPI yang layaknya dipersiapkan setiap tahun ajaran baru. Saya bagikan dengan Anda dengan harapan dapat tukar pengalaman dalam khasanah pembelajaran KKPI khususnya setingkat SMK.
Adapun perangkat tersebut yang perlu dipersiapkan diantaranya:
  1. Kalender Pendidikan;

Friday, May 25, 2012

Perkembangan Membaca Usia Dini

Melanjutkan info saya yang lalu tentang studi pustaka pada kerangka penilitan tindakan kelas, berikut ini akan saya share tentang perkembangan membaca pada usia dini khusunya telah memasuki Sekolah Dasar.

Ada beberapa fase dalam perkembangan membaca, yakni fase pra-membaca, yang terjadi sebelum 6 tahun, anak-anak mempelajari perbedaan huruf dan perbedaan angka yang satu dengan yang lainnya, sehingga kemudian dapat mengenal setiap huruf dan setiap angka. Kebanyakan anak dapat mengenal nama mereka jika ditulis. Dengan belajar lewat lingkungan misalnya tanda-tanda dan nama benda yang dilihatnya, kata-kata yang dikenalnya sedikit demi sedikit akan lepas dari konteksnya sehingga akhirnya anak dapat mengenal kata-kata tersebut dalam bentuk tulisan.

Kira-kira 60 % dari anak yang berumur 3 tahun dan 80 % dari yang berumur 4-5 tahun di Amerika mengenal kata staf (Goodman, lewat owens, 1992: 400).
Pada fase ke 1, yaitu sampai kira-kira kelas dua, anak memusatkan pada kata-kata lepas dalam cerita sederhana. Supaya dapat membaca, anak perlu mengetahui sistem tulisan, cara mencapai kelancaran membaca, terbebas dari kelancaran membaca. Untuk itu anak harus dapat mengintegrasikan bunyi dan sistem tulisan. Pada umur 7 atau 8 kebanyakan anak telah memperoleh pengetahuan tentang huruf, suku kata dan kata yang diperlukan untuk dapat membaca. Pengetahuan ini banyak diperoleh di sekolahan.
Pada fase ke 2, kira-kira ketika berada di kelas tiga dan empat. Anak dapat menganalisis kata-kata yang tidak mengetahui menggunakan pola tulisan dan kesimpulan yang didasarkan konteksnya pada fase ke 3, dari kelas empat sampai dengan kelas II SLTP tampak adanya perkembangan pesat dalam membaca yaitu: tekanan membaca tidak lagi pada pengenalan tulisan tetapi pada pemahaman.
Pada fase ke 4, yakni akhir SLTP sampai dengan SLTA, remaja menggunakan keterampilan tingkat tinggi misalnya inferensi (penyimpulan) dan pengenal pandangan penulis untuk meningkatkan pemahaman. Fase ke 5, tingkat perguruan tinggi dan seterusnya, atau orang dewasa dapat menginterasikan hal-hal yang dibaca dengan pengetahuan yang dimilikinya dan menanggapi secara kritis materi bacaan. (Owens, 1992: 400-401)

Perkembangan pada usia dini cenderung menggunakan teknik membaca nyaring. Membaca nyaring adalah membaca bersuara dengan lafal, intonasi, jeda secara tepat mengena sesuai dengan isi dan situasi, kelancaran, kewajaran tanpa adanya cacat baca (Amir, 199: 19).
Membaca nyaring adalah membaca bersuara dengan lafal serta intonasi yang tepat sesuai dengan tanda baca yang digunakan (H. Suyatno, 2008: 26). Untuk memiliki keterampilan membaca, sudah tentu diperlukan latihan membaca secara tekun dan terus-menerus, baik dalam membaca secara bersuara / nyaring maupun membaca pemahaman yang berlangsung dalam hati. Membaca nyaring pada umumnya dilakukan secara lugas, datar, wajar, realistis, dan eksak. Membaca tersebut lebih mementingkan kebenaran teknik pembacaan yang mengarah ke kebakuan dalam bahasa.

Dalam membaca nyaring kita melibatkan beberapa aspek yaitu:
  1. Pelafalan,
  2. Intonasi,
  3. Jeda secara tepat guna,
  4. Kelancaran,
  5. Kewajaran tanpa adanya cacat baca.

Tentu semua aspek tersebut secara bersama-sama diterapkan dalam kegiatan membaca bersuara. Dengan demikian kita akan mendapatkan hasil membaca yang utuh (Amir, 1996: 8).
Di dalam kegiatan membaca, khususnya membaca bersuara atau membaca nyaring, peranan lafal sangat penting. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988 : 485) lafal adalah cara seseorang atau sekelompok orang di suatu masyarakat bahasa mengucapkan bunyi bahasa. Pengucapan bunyi bahasa secara tepat perlu ditambahkan sejak siswa duduk si bangku SD kelas permulaan, bahkan sejak taman kanak-kanak. Jika lafal telah dilatih sejak awal sudah barang tentu membuahkan hasil yang membuaskan.mereka sejak kecil telah dibiasakan membaca dengan lafal yang tepat. Tentu saja materi bacaan harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan, usia, jiwa, dan sebatas dengan kemampuan para siswa.

Lafal dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu:
  1. Lafal vokal
  2. Lafal konsonan

Kebiasaan melafalkan vokal dan konsonan secara tepat akan memiliki manfaat ganda. Disamping merupakan bekal yang sangat berharga dalam menyongsong dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, penguasaan dan penerapan lafal secara benar akan berakibat:

  1. Komunikasi akan berlangsung lebih lancar dan baik.
  2. Terhindar dari penilaian dan asosiasi yang kurang menguntungkan.
  3. Meningkatkan kesadaran berbahasa lisan secara benar dan memupuk rasa bangga memiliki bahasa Indonesia.
  4. Dapat memupuk disiplin berbahasa, mencipta dan memperkokoh rasa persatuan bangsa.
  5. Mempermantap eksistensi diri.

Demikian besar peranan lafal dalam berkomunikasi, namun pada kenyataannya lafal bahasa Indonesia hingga saat ini belum dilakukan secara nyata, diatur dalam undang-undang seperti pada ejaan, pembentukan istilah, Tata Bahasa Baku, ataupun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hal ini tidak berarti bahwa pemakai bahasa Indonesia dapat melafalkan kata-kata bahasa Indonesia sesuka hati secara sendiri-sendiri. Lafal yang baik menurut J.S Badudu (2005: 63) adalah lafal yang wajar, tidak dibuat-buat dan tidak mendengarkan lafal daerah ataupun asing.

Lafal vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas 6 fonem yaitu : /i/e/a/u/ê/o/. Mengenai istilah fonem dan huruf dikacaukan. Fonem adalah bunyi bahasa yang distingtif. Sedangkan huruf merupakan perlambangan fonem (ejaan). Keenam vokal di atas dapat menduduki posisi pada awal, tengah, maupun akhir suku kata (ejaan).


DAFTAR PUSTAKA
  1. Akhadiah. Sabarti, dkk. 1992/1993. Bahasa Indonesia III. Jakarta. Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
  2. Andayani, dkk. 2009. Materi Pokok Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta. Universitas Terbuka.  
  3. Darmiyati. Zuchdi, dkk. 1999/2000. Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta. Dirjen dikti. Depatemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
  4. Depdiknas, 2003. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.
  5. Depdiknas. 2006. Kurikulum KTSP Kelas I. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.
  6. Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis. 1983. Petunjuk Khusus Bidang Pengajaran Bahasa Indonesia Buku II Pengembangan dan Pengadminstrasian Program. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  7. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. 1991/1992.  Petunjuk Pengajaran Membaca dan Menulis Kelas I di Sekolah Dasar. Jakarta. P2MSK.
  8. Mikarsa, Hera Lestari, dkk. 2007. Materi Pokok Pendidikan Anak di SD Edisi 1. Jakarta. Universitas Terbuka.
  9. Puji Santoso, dkk. 2009. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta. Universitas Terbuka.
  10. Rusna Ristasa Augusta. 2010. Pedoman Penyusunan Laporan Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Departemn Pendidikan Nasional. Jakarta. Universitas Terbuka.  
  11. St. Y. Slamet. dkk. 1996. Peningkatan Keterampilan Bahasa Indonesia (Bahasa Lisan Dan Bahasa Tertulis). Surakarta. D II/Semester I/3 SKS. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.  
  12. Sumantri, Mulyani, 2001. Strategi Belajar Mengajar. Bandung. CV Maulana.
  13. Suyatno. H. Dkk. 2008. Indahnya Bahasa Dan Sastra Indonesia. Jakarta. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
  14. Tarigan. Djago. Drs. dkk. 2006. Materi Pokok Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta.Universitas Terbuka.
  15. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Depdiknas.
  16. Wardhani, I Gak, dkk. 2007. Penelitian Tindkaan Kelas. Jakarta. Universitas Terbuka.
  17. Winataputra, H. Udin S. dkk.2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Universitas Terbuka.  

Data upadate tanggal 17 Pebruari 2013

Thursday, May 24, 2012

Pembelajaran Membaca Di Sekolah Dasar

Melanjutkan info saya yang lalu tentang studi pustaka pada kerangka penilitan tindakan kelas, berikut ini akan saya share tentang latar belakang dan pandangan umum pembelajaran membaca pada pelajaran "Bahasa Indonesia".

Pembelajaran membaca mempunyai peranan yang sangat penting, karena dengan membaca seseorang akan dapat memperoleh informasi, ilmu dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Semua yang diperoleh dalam bacaan itu akan memungkinkan seseorang mampu meningkatkan daya pikir, mempertajam pandangan dan memperluas wawasan.

Salah satu bidang garapan pembelajaran “bahasa” khususnya Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar yang memegang peranan penting ialah pembelajaran "membaca" dan menulis yang memadai sejak dini, sehingga siswa tidak akan mengalami kesulitan belajar dikemudian hari. Kemampuan membaca dan menulis menjadi dasar utama, tidak saja bagi pengejaran bahasa, tetapi juga bagi pembelajaran pada mata pembelajaran yang lain. Dengan membaca dan menulis siswa akan memperoleh pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan daya nalar, sosial dan emosionalnya (Depdikbud 1992/1993). Mengingat pentingnya peranan membaca dan menulis tersebut bagi perkembangan siswa, maka cara guru mengajar membaca dan menulis harus benar.

Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia seperti yang diamanatkan dalam GBHN 1993, pemerintah telah menetapkan “Sekolah Dasar” sebagai tempat belajar kemampuan dasar yaitu “membaca, menulis dan menghitung”. Ketiga hal tersebut sebagai prasarat untuk menggali dan menimba ilmu pengetahuan yang lebih tinggi. Tanpa penguasaan yang baik terhadap kemampuan tersebut, akan berkurang penguasaan ilmu-ilmu yang lain bahkan dapat dikatakan “tidak dapat menguasai”.

Dalam Silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Standar Kompetensi bahan kajian bahasa Indonesia di kelas I Sekolah Dasar, disebutkan bahwa membaca untuk memahami teks pendek dengan membaca nyaring dan membaca untuk memahami teks pendek dengan membaca lancar dan membaca puisi anak, maka pembelajaran membaca dikelas rendah terutama di kelas I, anak diupayakan supaya dapat membaca lancar dengan memperhatikan pemenggalan kata, lafal dan intonasi yang benar sesuai dengan tanda baca yang digunakan. Dengan lancar membaca anak-anak akan lebih mudah memahami perihal yang dibaca, lebih nalar untuk mengikuti perkembangan pembelajaran berikutnya bahkan dapat bermanfaat disegala bidang pembelajaran lainnya. Orang bijak berkata: Dengan membaca kita dapat keliling dunia dengan sekejap mata, tanpa membaca hidup ini akan hampa dan nista, bagaikan katak dalam tempurung” seperti orang yang picik pengetahuannya. Oleh karena itu membaca sangat penting peranannya dalam dunia pendidikan.

Melihat kenyataan yang sering di hadapi di kelas rendah khususnya kelas I Sekolah Dasar, tingkat .kelancaran membaca masih relatif rendah. Hal ini penulis alami sendiri bahwa: dari 30 anak yang dapat membaca dengan lancar mencapai 50 %, lainnya mengalami kesulitan untuk membaca dan berkomunikasi. Ketika anak membaca bersama-sama terlihat semua sudah lancar membaca, tetapi ketika membaca perbaris dalam satu kelompok kelihatan sekali antara yang sudah lancar membaca dan yang tidak lancar membaca bahkan nampak tidak membaca sama sekali. Terlebih apabila diberikan tugas membaca peranak, akan lebih tampak jelas perbedaan tersebut bahkan tidak bunyi/tidak bersuara dalam membaca. Seorang guru ingin sekali dalam pembelajarannya berhasil dengan baik dan optimal, tetapi dalam pembelajaran belum bisa berjalan dengan baik karena banyak kendala-kendala yang dialami seperti kurangnya alat atau media belajar, kurangnya minat baca anak, guru kurang proaktif, kreatif dan inofatif. Ini adalah tantangan bagi seorang guru untuk mengoreksi diri demi meningkatkan prestasi. Peran guru sebagai motifator agar memotivasi anak untuk gemar membaca, atau metode dan media yang digunakan kurang tepat dan tingkat ketekunan guru masih kurang dalam memperhatikan perkembangan anak.

Selama ini pembelajaran membaca yang dilakukan guru adalah “guru membaca, siswa menirukan bersama-sama”. Dengan metoda tersebut akan terjadi anak asal menirukan saja, ada anak yang bermain dan bercerita sendiri, sehingga ketika diberi tugas membaca satu-persatu terdapat anak tidak bisa membaca, tidak dapat mengeja apalagi menunjukkan sebuah kata atau kalimat. Hal ini disebabkan karena anak belum memahami huruf. Selama ini membaca hanya menirukan dan hafalan. Kendala lain misalnya dari lingkungan, misalnya lingkungan keluarga. Di rumah kurang perhatian orang tua, anak mau belajar atau tidak dibiarkan saja. Padahal waktu belajar di rumah lebih banyak dari pada waktu belajar di sekolah.

Untuk itu guru diharapkan dapat mendalami hal-hal yang menjadikan tantangan, diantaranya adalah penggunaan metoda pembelajaran yang proporsional dengan mengacu kepada kesiapan guru, kesiapan anak dan kesiapan sekolah dengan tidak meninggalkan kesiapan orang tua anak itu sendirisehingga tidak terjadi phobia dalam membaca, tetapi menjadi nyaring dalam membaca.


DAFTAR PUSTAKA
  1. Akhadiah. Sabarti, dkk. 1992/1993. Bahasa Indonesia III. Jakarta. Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
  2. Andayani, dkk. 2009. Materi Pokok Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta. Universitas Terbuka.
  3. Darmiyati. Zuchdi, dkk. 1999/2000. Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta. Dirjen dikti. Depatemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
  4. Depdiknas, 2003. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.
  5. Depdiknas. 2006. Kurikulum KTSP Kelas I. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.
  6. Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis. 1983. Petunjuk Khusus Bidang Pengajaran Bahasa Indonesia Buku II Pengembangan dan Pengadminstrasian Program. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  7. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. 1991/1992. Petunjuk Pengajaran Membaca dan Menulis Kelas I di Sekolah Dasar. Jakarta. P2MSK.
  8. Mikarsa, Hera Lestari, dkk. 2007. Materi Pokok Pendidikan Anak di SD Edisi 1. Jakarta. Universitas Terbuka.
  9. Puji Santoso, dkk. 2009. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta. Universitas Terbuka.
  10. Rusna Ristasa Augusta. 2010. Pedoman Penyusunan Laporan Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Departemn Pendidikan Nasional. Jakarta. Universitas Terbuka.
  11. St. Y. Slamet. dkk. 1996. Peningkatan Keterampilan Bahasa Indonesia (Bahasa Lisan Dan Bahasa Tertulis). Surakarta. D II/Semester I/3 SKS. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
  12. Sumantri, Mulyani, 2001. Strategi Belajar Mengajar. Bandung. CV Maulana.
  13. Suyatno. H. Dkk. 2008. Indahnya Bahasa Dan Sastra Indonesia. Jakarta. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
  14. Tarigan. Djago. Drs. dkk. 2006. Materi Pokok Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta.Universitas Terbuka.
  15. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Depdiknas.
  16. Wardhani, I Gak, dkk. 2007. Penelitian Tindkaan Kelas. Jakarta. Universitas Terbuka.
  17. Winataputra, H. Udin S. dkk.2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Universitas Terbuka.

Wednesday, May 23, 2012

Proses Penyelesaian Hlookup Versi 1

Proses Penyelesaian Hlookup Versi 1

Info Toko Surya62

Apa khabarnya sahabatku semuanya? semoga selalu sehat wal'afiat adanya. Sahabat Blogger yang berbahagia, berikut ini akan saya share bagaimana menerapkan formula Hlookup untuk menyelesaikan suatu proses penghitungan dalam tabel Program Olah Angka seperti berikut ini. Untuk melihat gambar lebih jelas silahkan klik gambar dan untuk kembali silahkan klik kiri panah kekiri browser Anda.


Dalam versi 1 ini akan terlihat dalam tabel (kolom kosong) tentang cara menghitung:
  1. Wilayah Asal
  2. NJOP
  3. Biaya Ukur
  4. Akhir Pengukuran
  5. Jumlah pajak terutang
Jika diketahui:
  1. Kode WP
  2. Nama WP
  3. Luas Tanah
  4. Tanggal Pengukuran
  5. Waktu Pengukuran
Dan juga jika diketahui sebagaimana data-1 sebagai sumber data berikut ini:

Maka persoalan penghitungan tersebut diselesaikan dengan formula hlookup karena sumber data dalam bentuk mendatar (perhatikan data-1 kepala kolom berada di sebelah kiri), adalah sebagai berikut:

  1. Untuk menghitung wilayah asal atau pada cel D15 dengan formula sebagai berikut : =HLOOKUP(B15;$B$2:$H$5;2;0)
  2. Untuk menghitung NJOP atau cel G15 dengan rumus sebagai berikut : =HLOOKUP(B15;$B$2:$H$5;3;0)
  3. Cara menghitung Biaya Ukur diselesaikan dengan rumus sebagai berikut: =HLOOKUP(B15;$B$2:$H$5;4;0)
  4. Cara menghitung Akhir Pengukuran dapat dilakukan dengan cara merubah cel pada kolom I15:I30 menjadi type general yaitu blok cel tersebut (klik kanan pada are blog) >> format cell >> Number >> General. Maka pada ring tersebut yaitu I15 hingga I30 menjadi type angka sehingga akan dapat dilakukan pengurangan. Selanjutnya pada cell L15 diselesaikan dengan rumus= =I15-J15. Perlu diperhatikan bahwa pengetikan pada satuan waktu pengukuran (hari) dipisahkan dengan angka waktu pengukuran jadi kolom waktu pengukuran sesungguhnya dua cel yang terpisah dan kepala kolom termerger.
  5. Untuk menghitung Jumlah pajak terutang dengan rumus= =E15*G15 dengan catatan kolom E15 antara jumlah luas tanah dengan satuan terpisah cell-nya yaitu E15 (jumlah luas tanah) dengan F15 (satuan luas tanah.

Hasil akhir proses penghitungan akan diperoleh data dalam tabel olah angka sebagai berikut (perhatikan tabel alamat kolom dan baris dalam gambar cara penyelesaian):


Demikian konten saya kali ini sebagai pembelajaran bagi siswa siswiku tercinta, semoga dapat menjadikan khasanah bagi kita dan mudah untuk kita praktekkan. Semoga Sukses !!! Terima kasih atas kunjungannya dan berikan koment yang terbaik agar kita dapat lebih meningkatkan persahabatan.
Wassalamu'alaikum wa Rakhmatullahi wa Barakatuh.


Monday, May 21, 2012

Dasar-dasar Pembelajaran Metode SAS

Apa khabar sobat semuanya, berikut ini akan saya share petikan beberapa metoda penelitian mengenai study pustaka yang saya lakukan pada saat membuat kerangka penelitian tindakan kelas berjudul "Membaca untuk meningkatkan prestasi belajar Bahasa Indonesia di SD Kelas 1", untuk melajutkan konten saya yang lalu sebagai berikut:

Metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) Terdapat beberapa metoda yang diterapkan untuk kelas 1 SD diantaranya adalah Metode Struktural Analitik Sintetik (SAS).
  1. Struktur bahasa
    Setiap bahasa memiliki struktur-struktur suatu bahasa tidak sama dengan bahasa lain. Bahasa tergolong satu rumpunpun tidak juga sama betul strukturnya. Struktur suatu bahasa merupakan satu kesatuan yang tetap berbentuk. Oleh karena itu struktur bahasa juga merupakan organisasi yang membentuk kesatuan bahasa. (Hartmann, 1972: 222).
  2. Bentuk Bahasa
    Umumnya kita mengakui bahwa bagian bahasa yang paling kecil ialah kalimat. Satu kalimat harus menyatakan satu pengertian yang cukup lengkap dan jelas (bentuk, fungsi dan satu bagian bahasa). Namun kadang-kadang kalimat saja, atau satu tanda isyarat saja. Kata (yang berdiri sendiri), suku kata, dan huruf (bunyi) bukanlah bahasa, melainkan anasir bahasa. Menurut pengertian itu mengajarkan suku kata atau kata, melainkan kalimat.
  3. Dasar-dasar Ilmu Jiwa (Metode SAS)
    1. Bahasa
      Sejak lahir, bayi telah dapat bersuara sebagai alat komunikasi alamiah (tangis). Mulai itu pula bayi telah dapat mendengar suara bahasa dari orang tua atau lingkungan rumah. Orang tua si bayi aktif mengajar anak bayinya itu berbahasa. Tidak bosan-bosannya orang tua selalu mengajar berbahasa kepada anaknya itu. Bentuk bahasa yang diajarkan itu juga dimulai dari kalimat-kalimat lengkap.
    2. Pengalaman
      Pengalaman berbahasa anak umur 7 tahun sampai waktu memasuki sekolah. Sudah cukup lengkap dan dapat menguasai bahasa dengan kalimat-kalimat yang kompleks. Bahasa yang paling banyak dikuasai oleh anak-anak mulai mulai masa sekolah yaitu bahasa yang menyatakan lingkungan rumah dan masyarakat tetangga. Pada waktu memasuki sekolah saja akan tertarik akan keadaan lingkungan sekolah. Jiwa melihat (ingin tahu) terhadap hal-hal baru sangat besar. Hal ini hendaknya dapat dilayani dengan cara mengenalkan benda-benda yang terdapat di sekolah itu.
    3. Lingkungan
      Benda-benda di rumah telah banyak dikenal oleh anak-anak. Itu memberitahukan lingkungan psikologis memberi jawaban pada pertanyaan anak yang masih terpendam. Hal yang logis. Sebaliknya benda-benda dan orang-orang di lingkungan skolah merupakan benda-benda dan orang-orang yang ingin dikenal oleh anak. Lingkungan rumah dapat disebut lingkungan logis, sedangkan lingkungan sekolah disebut lingkungan psikologis. Lingkungan psikologis inilah yang mengandung hal-hal yang ingin diketahui oleh anak. Selanjutnya antara lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat (antara sekolah dan rumah) perlu ada pertimbangan-pertimbangan berdasarkan apa yang ingin diketahui oleh anak-anak.
  4. Dasar-dasar pendidikan (Metode SAS)
    Persoalan pendidikan di SD, apalagi pendidikan permulaan kelas I, merupakan persoalan berbahasa belaka. Bagaimana proses pendidikan itu, akan merupakan bagaimana proses belajar / mengajar bahasa. Seandainya anak tidak dididik secara formal maupun informal, potensi anak itu akan tetap tumbuh dan berkembang karena pengalamannya.
    Oleh karena itu pendidikan dapat diberi arti "mempercepat proses kedewasaan dengan cara mengorganisasi pengalaman anak." Pengalaman anak bisa dijadikan dasar pendidikan, apalagi pengalaman berbahasa. Dari pengalaman itu anak diharapkan dapat mencari dan menemukan sendiri persoalan yang dihadapi.
    Sesuatu benda yang dikenalkan, hendaknya dapat diusapi, ditemukan atau dihayati fungsi benda itu, baru dikenalkan namanya. Yang sangat penting bagi siswa ialah fungsi dan kegunaan benda-benda itu. Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa anak-anak di Indonesia kebanyakan sampai pada waktu memasuki sekolah, tidak atau belum mengetahui, siapa nama ibunya sendiri.
  5. Langkah-langkah pembelajaran metoda SAS adalah sebagai berikut
    1. Guru bercerita atau Tanya jawab dengan murid disertai gambar (gambar sebuah keluarga).
    2. Membaca beberapa gambar, misalnya: gambar ibu, ayah, nana, dsb.
    3. Membaca beberapa kalimat dengan gambar, misalnya di bawah ini gambar seorang ibu terdapat bacaan "ini mama mami".
    4. Setelah hafal, dilanjutkan membaca tanpa bantuan gambar. Misalnya: ini mama noni, ini nana.
    5. Menganalisis sebuah kalimat menjadi kata, suku kata, dan huruf kemudian mensinteskannya kembali menjadi kalimat.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Akhadiah. Sabarti, dkk. 1992/1993. Bahasa Indonesia III. Jakarta. Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
  2. Andayani, dkk. 2009. Materi Pokok Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta. Universitas Terbuka.
  3. Darmiyati. Zuchdi, dkk. 1999/2000. Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta. Dirjen dikti. Depatemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
  4. Depdiknas, 2003. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.
  5. Depdiknas. 2006. Kurikulum KTSP Kelas I. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.
  6. Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis. 1983. Petunjuk Khusus Bidang Pengajaran Bahasa Indonesia Buku II Pengembangan dan Pengadminstrasian Program. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  7. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. 1991/1992. Petunjuk Pengajaran Membaca dan Menulis Kelas I di Sekolah Dasar. Jakarta. P2MSK.
  8. Mikarsa, Hera Lestari, dkk. 2007. Materi Pokok Pendidikan Anak di SD Edisi 1. Jakarta. Universitas Terbuka.
  9. Puji Santoso, dkk. 2009. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta. Universitas Terbuka.
  10. Rusna Ristasa Augusta. 2010. Pedoman Penyusunan Laporan Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Departemn Pendidikan Nasional. Jakarta. Universitas Terbuka.
  11. St. Y. Slamet. dkk. 1996. Peningkatan Keterampilan Bahasa Indonesia (Bahasa Lisan Dan Bahasa Tertulis). Surakarta. D II/Semester I/3 SKS. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
  12. Sumantri, Mulyani, 2001. Strategi Belajar Mengajar. Bandung. CV Maulana.
  13. Suyatno. H. Dkk. 2008. Indahnya Bahasa Dan Sastra Indonesia. Jakarta. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
  14. Tarigan. Djago. Drs. dkk. 2006. Materi Pokok Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta.Universitas Terbuka.
  15. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Depdiknas.
  16. Wardhani, I Gak, dkk. 2007. Penelitian Tindkaan Kelas. Jakarta. Universitas Terbuka.
  17. Winataputra, H. Udin S. dkk.2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Universitas Terbuka.

Data update tanggal 17 Pebruari 2013

Sunday, May 20, 2012

Pandangan Umum Tentang Membaca

Pandangan Umum Tentang Membaca

Apa khabar sobat semuanya, berikut ini akan saya share mengenai study pustaka yang saya lakukan pada saat membuat kerangka penelitian tindakan kelas berjudul "Membaca untuk meningkatkan prestasi belajar Bahasa Indonesia di SD Kelas 1", untuk melajutkan konten saya yang lalu sebagai berikut:

Banyak cara yang bisa ditempuh agar seseorang memperoleh pengetahuan. Salah satunya yang paling sering dilakukan adalah melalui membaca. J.P. Chaplin (2006) memberikan rumusan membaca sebagai "persepsi visual dari kata-kata beserta artinya". Definisi ini tampaknya lebih menekankan pengertian membaca sebagai kegiatan seseorang untuk memperoleh pengetahuan melalui sumber-sumber tekstual, seperti buku, artikel, koran dan sebagainya, dengan menggunakan mata atau pandangan sebagai alat utamanya. Jika diperluas lagi, pengertian membaca disini sebenarnya tidak hanya persepsi visual terhadap bentuk rangkaian kata-kata (verbal) tetapi juga dapat berbentuk simbol-simbol lainnya, seperti angka, gambar, diagram, tabel yang di dalamnya memiliki arti dan maksud tertentu.
Melalui aktivitas membaca, seseorang dapat mengenal suatu objek, ide prosedur, konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori, atau kesimpulan. Bahkan lebih dari itu, melalui aktivitas membaca seseorang dapat mencapai kemampuan kognitif yang lebih tinggi, seperti menjelaskan, menganalisis, hingga mengevaluasi suatu objek atau kejadian tertentu. Adalah hal yang keliru jika memandang aktivitas membaca seolah-olah hanya "milik orang-orang sekolahan", sehingga orang-orang yang tidak bersekolah dianggap tidak perlu lagi melakukan aktivitas membaca. Membaca pada dasarnya milik semua orang dan siapa pun dapat melakukannya. Demikian juga dengan bahan yang dibacanya, tidak hanya berhubungan dengan hal-hal yang "serba serius", dalam arti memerlukan proses kognisi tingkat tinggi, tetapi juga dapat berupa hal-hal yang ringan dan sederhana untuk sekedar memenuhi rasa ingin tahu seseorang, misalnya untuk memperoleh informasi tentang hasil pertandingan sepakbola, atau peristiwa-peristiwa lainnya yang terjadi pada suatu saat tertentu.

Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, aktivitas membaca tidak hanya dilakukan melalui tulisan yang disajikan di atas kertas, tetapi juga dapat dilakukan melalui tulisan elektronis, yang mungkin dalam penyajiannya akan jauh lebih menarik dan atraktif.
Secara psikologis, aktivitas membaca senantiasa melibatkan aspek fisik-motorik, seperti, kondisi mata yang akan menentukan jarak pandang, posisi duduk, gerak tangan, kondisi kesehatan dan sebagainya. Selain itu, dalam aktivitas membaca akan melibatkan pula aktivitas psikis, terutama aktivitas kognitif dan afektif. Aktivitas kognitif diantaranya berkaitan dengan upaya untuk mengasimilasi dan mengakomodasi kata-kata atau gambar (informasi) yang sedang dipersepsinya (teori Kognitif Piaget). Seseorang akan lebih mudah mencerna suatu bacaan apabila bacaan tersebut memiliki kesesuaian dengan struktur atau skema kognitif yang telah dimiliki sebelumnya. Seorang ahli pendidikan cenderung lebih cepat menangkap arti dan makna yang terkandung dalam sebuah tulisan atau bacaan tentang pendidikan, karena besar kemungkinan isi bacaan tersebut memiliki kesesuaian dengan struktur atau skema kognitif yang telah dimilikinya. Namun, jika dia harus membaca buku atau tulisan lain di luar keahliannya, mungkin dia akan mengalami kesulitan tersendiri untuk menangkap isi yang terkandung dalam tulisan.
Sedangkan aktivitas afektif diantaranya berkaitan dengan senang-tidak senang atau penting-tidak penting terhadap apa yang akan atau sedang dibacanya. Jika seseorang merasa senang dan termotivasi untuk mengetahui isi suatu bacaan, maka dia cenderung untuk memberikan intensitas yang lebih tinggi untuk mempersepsi setiap isi tulisan yang ada. Seseorang yang kurang termotivasi untuk memperoleh pengetahuan biasanya cenderung jarang melakukan aktivitas membaca. Jangankan membaca tulisan yang serba serius, untuk membaca yang ringan-ringan pun cenderung kurang atau tidak akan tertarik sama sekali.

Banyak alasan kenapa seseorang tidak termotivasi untuk membaca, mulai dari ketidak mampuannya untuk menangkap isi tulisan (daya ingat menurun) sampai dengan alasan sibuk tidak memiliki waktu atau kurangnya sumber bacaan karena alasan ekonomi. Celakanya, hal ini kadang-kadang atau mungkin sering terjadi justru di kalangan kelas menengah dan tinggi atau para guru yang sesungguhnya kepada mereka dituntut untuk memiliki pengetahuan yang mendalam tentang bidang yang sedang dipelajari atau diajarkannya.
Anda mungkin bisa bertanya kepada para kelas menengah dan tinggi apakah mereka memiliki buku untuk setiap mata pelajaran/mata kuliah yang diajarkan. Pasti akan ditemukan kelas menengah dan tinggiyang tidak memiliki buku untuk mata kuliah atau mata pelajaran tertentu. Betapa pentingmya membaca buku di kalangan kelas menengah dan tinggi sehingga di beberapa negara maju dalam kegiatan pembelajaran telah menekankan kewajiban minimal membaca beberapa buku kepada para siswanya untuk suatu mata pelajaran tertentu. Selanjutnya, kepada mereka diminta untuk menceritakan kembali inti atau pokok-pokok kandungan dari buku yang telah dibacanya. Hampir bisa dipastikan, semakin banyak buku yang wajib dibacanya, semakin tinggi pula tingkat pengetahuannya. Anda juga bisa bertanya kepada para guru, berapa buku yang dimiliki dan pernah dibacanya berkaitan dengan kegiatan pengembangan kurikulum saat ini. Niscaya, Anda akan menemukan guru yang sudah sekian lama tidak lagi membaca buku-buku yang terkait dengan mata pelajaran yang diampunya, sehingga bahan ajar yang diberikan kepada para siswa pun hanya berupa pengetahuan peninggalan masa lampau, yang mungkin sudah tidak selaras lagi dengan tuntutan perkembangan saat ini. Selanjutnya Anda pasti bisa memprediksi sendiri, seperti apa produk pendidikan yang dihasilkan oleh guru yang kurang membaca semacam ini.

Terkait dengan proses pembelajaran di sekolah/perguruan tinggi, meski saat ini proses pembelajaran lebih cenderung mengedepankan pendekatan kontekstual, namun bukan berarti pendekatan pembelajaran tekstual diabaikan. Pembelajaran tekstual melalui pengkajian berbagai buku, jurnal dan bentuk-bentuk karya tulis lainnya, baik yang disajikan di atas kertas maupun elektronis, masih tetap diperlukan terutama untuk kepentingan pengembangan pengetahuan (kognitif) kelas menengah dan tinggi. Untuk itulah, para kelas menengah dan tinggiseyogyanya didorong untuk memiliki kegemaran membaca dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan utama. Dalam hal ini, tentu saja sekolah/perguruan tinggi seyogyanya dapat memberikan kemudahan bagi para kelas menengah dan tinggi dan guru/dosen dengan menyediakan sumber-sumber bacaan yang lengkap dan beragam, baik yang tersedia di perpustakaan maupun yang tersedia secara on line. Anggaran untuk penyediaan buku-buku dan kemudahan akses internet tampaknya perlu menjadi perhatian utama di sekolah. Ketersediaan buku-buku yang lengkap serta kemudahan mengakses internet tampaknya bisa dijadikan sebagai salah satu indikator sekolah yang baik untuk mengukur kinerja sekolah.

Membaca merupakan salah satu di antara empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) yang penting untuk dipelajari dan dikuasai oleh setiap individu. Dengan membaca, seseorang dapat bersantai, berinteraksi dengan perasaan dan pikiran, memperoleh informasi, dan meningkatkan ilmu pengetahuannya. Menurut Bowman and Bowman (1991: 265) membaca merupakan sarana yang tepat untuk mempromosikan suatu pembelajaran sepanjang hayat (life-long learning). Dengan mengajarkan kepada anak cara membaca berarti memberi anak tersebut sebuah masa depan yaitu memberi suatu teknik bagaimana cara mengekplorasi "dunia" mana pun yang dia pilih dan memberikan kesempatan untuk mendapatkan tujuan hidupnya.
Membaca bukanlah suatu kegiatan pembelajaran yang mudah. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam membaca. Secara umum faktor-faktor tersebut dapat diidentifikasi seperti guru, siswa, kondisi lingkungan, materi pelajaran, serta teknik mempelajari materi pelajaran.

Faktor terakhir yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam membaca adalah penguasaan teknik-teknik membaca. Ada beberapa teknik membaca yang dapat diterapkan untuk dapat mencapai prestasi membaca yang baik, diantaranya dengan teknik survei, question, read, recite, dan review (SQ3R), dan teknik scanning and skimming yang mengedepankan analitik sintetik. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan apakah teknik skimming yangmenitik beratkan pada SAS, dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar membaca serta mengevaluasi apakah ada perbedaan hasil belajar antara siswa laki-laki dan perempuan.
Perbedaan hasil belajar membaca antara siswa laki-laki dan perempuan yang diajar dengan teknik skimming dianggap perlu untuk diteliti karena menurut teori keduanya memiliki karakteristik yang berbeda dalam minat baca dan kemampuan linguistiknya. Misalnya, secara teori kemampuan linguistik perempuan pada umumnya berkembang lebih dahulu dan lebih baik jika dibandingkan dengan laki-laki. Harris (1998:58) mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan dalam sikap belajar. Misalnya perempuan biasanya menggunakan strategi belajar yang lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Perbedaan karakteristik ini dapat berpengaruh terhadap kemampuan skimming mereka.

Menurut Wiener dan Bazerman (1978: 65), skimming adalah proses membaca cepat untuk mencari fakta. Orang yang membaca dengan menggunakan teknik skimming harus melihat kalimat-kalimat yang diperkirakan mengandung informasi yang diperlukan secara cepat untuk mendapatkan fakta-fakta yang ada dalam setiap paragraf. Jadi, ketika seseorang melakukan skimming, ia berarti tengah mencari jawaban dari suatu pertanyaan. Untuk melakukan proses skimming dengan benar perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Seorang pembaca perlu memastikan bahwa dirinya mengetahui informasi yang dibutuhkan,
  2. Seorang pembaca harus melihat baris demi baris, kalimat per kalimat secara cepat,
  3. Seorang pembaca perlu mengingat dan berpikir tentang informasi yang dibutuhkan selama ia melakukan proses skimming,
  4. Pembaca perlu memperlambat proses skimmingnya ketika mendapatkan kalimat-kalimat yang memungkinkan untuk mendapatkan informasi yang dicarinya.

Mikulecky (1990 : 138-139) menambahkan bahwa skimming adalah salah satu teknik membaca secara cepat. Skimming yang efektif memerlukan kemampuan pembaca untuk dapat memproses teks secara cepat sehingga mendapatkan gambaran umum tentang teks tersebut. Skimming berbeda dengan scanning, teknik lain membaca secara cepat. Scanning berguna untuk menemukan informasi khusus dari sebuah teks, seperti nomor telepon, sebuah kata di kamus, tanggal lahir pada buku biografi dan lain-lain. Akan tetapi, skimming lebih komprehensif. Skimming yang efektif membutuhkan pengetahuan tentang organisasi teks, kata-kata kunci (lexical clues), kemampuan untuk menentukan pikiran utama (main idea), dan kemampuan membaca lainnya. Skimming dilakukan untuk mendapatkan informasi yang diinginkan dan untuk menentukan apakah akan meneruskan membaca atau tidak, atau untuk me-review teks yang telah dibaca.

Langkah-langkah yang disarankan Mikulecky (1990) untuk melakukan skimming pada sebuah artikel adalah sebagai berikut: (1) Bacalah paragraf pertama dan kedua untuk mendapatkan overview dari sebuah artikel, (2) Pada paragraf ketiga dan selanjutnya, mulailah tinggalkan bagian-bagian yang tidak diperlukan dan bacalah kalimat-kalimat dan frase-frase kunci untuk mendapatkan main idea dan beberapa detail yang dibutuhkan, dan (3) Bacalah seluruh paragraf terakhir yang biasanya merupakan sebuah rangkuman dari sebuah artikel.

Wak Katok dalam novel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis (1975), misalnya, merupakan tokoh dukun palsu yang jahat. Buyung, tokoh pemuda yang cerdas dan baik, yang pada mulanya sangat percaya dan tertarik pada "ilmu" Wak Katok, mengalami "pendewasaan" yang cukup dahsyat dan akhirnya dia bukan saja menyadari bahwa "ilmu" Wak Katok itu palsu, tetapi juga bahwa "ilmu" seperti itu sebetulnya tidak perlu dan tidak baik. Pesan yang penting adalah bahwa manusia sebaiknya berusaha dengan "jujur" saja tanpa menggunakan bermacam-macam ilmu gaib, jimat, dan sebagainya, dan bahwa kepercayaan pada kekuatan gaib yang ada dalam masyarakat sebetulnya kurang menguntungkan karena dengan mudah dapat disalahgunakan oleh "pemimpin" semacam Wak Katok.

Pak Balam di terkam harimau dan dikaitakan dengan dosa yang telah dilakukannya.dikirim Tuhan untuk semuanya agar mengakui semua dosa yang telah dilakukan. Wak katok meras terhina dengan kata itu. Dan akhirnya dia mulai melemah ketika melihat sutan dan talib diterkam harimau.wak katok berusah mebunuh harimau itu,tpi tdk berhasil.dan ia merasa ketakutan.dimata buyung wak katok orng yang tidak benar, telah membunuh temannya zaman belanda, memperkosa siti rubiyah, menceritakan kehebatnya sendiri untuk menutupi kelemahan sendiri Wak Katok tipe oarng yang tidak jujur.
Kejujuran, kebersihan hati, kepemimpinan adalah tema utama dalam novel HH. Tokoh utama Wak Katok. Untuk menjadi seorang pemimpin seseorang itu harus dapat memimpin dirinya terlebih dahulu dan dapat menundukkan kejahatan demi kehidupan umat manusia. Novel ini membongkar kehidupan manusia yang sikapnya alim belum tentu dirinya baik. Harimau itu sifat pemalsuan, sombong. Hutan digambarkan dengan suatu keadaan yang kacau, burung gagak.

Seseorang pelajar lazimnya terpaksa banyak membaca seperti dalam konteks sekolah bestari, pelajar digalakkan mendapatkan maklumat dari pelbagai sumber. Mereka membaca untuk pelbagai tujuan, ada masanya mereka perlu membaca secara meluas atau ekstensif, ada masanya pula mereka perlu membaca secara intensif atau mendalam. Untuk menjadi seorang pembaca yang berkesan, pelajar perlu menguasai dan mengamalkan beberapa teknik membaca. Oleh itu guru perlu membimbing pelajar pelajar menguasai teknik-teknik tersebut dari peringkat sekolah rendah.

Dalam konteks sekolah, pelajar membaca untuk tujuan-tujuan seperti yang berikut, untuk mendapatkan maklumat atau fakta berkaitan dengan sesuatu tajuk atau perkara untuk mendapatkan gambaran keseluruhan tentang sesuatu tajuk atau perkara untuk memahami sesuatu persoalan atau menjelaskan kefahaman tentang sesuatu konsep untuk mengumpul pelbagai pendapat berkaitan dengan sesuatu persoalan. Secara umumnya seseorang perlu menguasai dua teknik membaca, iaitu; membaca pantas membaca kritis Untuk membaca pantas seseorang boleh menggunakan teknik skimming dan scanning, manakala untuk membaca dengan kritis seseorang boleh menggunakan teknik seperti KWLH dan SQ3R dengan menekankan pada analisa dan sintetik.

Teknik KWLH adalah singkatan bagi yang berikut;
K (know) Apa yang telah diketahui (sebelum membaca)
W (want) Apa yang hendak diketahui (sebelum membaca)
L (learned) Apa yang telah diketahui (selepas membaca)
H (how) Bagaimana untuk mendapat maklumat tambahan - yang berkaitan (untuk membaca seterusnya)

Apa yang jelas dari penerangan tersebut ialah suatu teknik membaca kritis di mana pembaca; mengingat dahulu apa yang telah diketahui membaca yang atau menentukan apa yang ingin diketahui melakukan pembacaan (bahan yang telah dipilih) mengetahui apa yang telah diperoleh dari pembacaan yang baru dilakukan menentukan apa lagi yang perlu diperoleh (sekiranya perlu membuat pembacaan seterusnya). Teknik pembacaan akan membolehkan pelajar mengaitkan pengetahuan yang sedia ada dengan apa yang dibaca menentuka apa yang telah diperoleh dari pembacaannya, dan menentukan apakah lagi bahan yang perlu dibaca sekiranya ingin mendapat maklumat tambahan Survey (tinjau) ialah langkah membaca untuk mendapatkan gambaran keseluruhan tentang apa yang terkandung di dalam bahan yang dibaca. Ini dilakukan dengan meneliti tajuk besar, tajuk-tajuk kecil, gambar-gambar atau ilustrasi, lakaran grafik, membaca perenggan pengenalan, dan perenggan terakhir di bahagian-bahagian buku atau teks. Di sini juga pelajar sebenarnya menggunakan teknik membaca pantas iaitu skimming dan scanning. Question (soal atau tanya) ialah langkah yang memerlukan pelajar menyenaraikan satu siri soalan mengenai teks tersebut setelah mendapati teks tersebut berkaitan dengan keperluan tugasannya. Soalan-soalan tersebut menunjukkan keinginan pembaca tentang maklumat yang ingin diperoleh dari bahan tersebut, dan ianya menjadi garis panduan semasa membaca kelak. Pelajar akan cuba mencari jawapan kepada soalan-soalan tersebut.

Read (baca) ialah peringkat pelajar sebenarnya membaca bahan atau teks tersebut secara aktif serta mencuba mendapat segala jawapan kepada soalan-soalan yang telah disenaraiakannya sebelum ini. Ketika membaca, pelajar mungkin juga akan menyenaraikan soalan-soalan tambahan, berdasarkan perkembangan kefahaman dan keinginannya sepanjang melakukan pembacaan. Pelajar mungkin juga mempersoal pendapat atau maklumat yang terdapat yang ditemuinya.

Recite (imbas kembali) ialah peringkat yang ketiga.Setelah selesai membaca, pelajar cuba mengingat kembali apa yang telah dibaca dan meneliti segala yang telah diperoleh. Pemilihan maklumat yang sesuai dilakukan dalam konteks tugasannya. Pelajar juga boleh cuba menjawab soalan-soalan yang disenaraikan sebelumnya tanpa merujuk kepada kepada nota atau bahan yang telah dibaca.

Review (baca semula) merupakan peringkat terakhir. Pelajar membaca bahagian-bahagian buku atau teks secara berpilih untuk mengesahkan jawapan-jawapan kepada soalan yang dibuatnya di langkah ketiga. Pelajar juga memastikan tiada fakta penting yang tertinggal.

Skimming dan Scanning sesuai digunakan untuk pembacaan bahan yang ringkas seperti sesuatu petikan mahu pun bahan bacaan yang lebih panjang seperti buku, jurnal dan majalah. Dalam pembacaan sesuatu petikan, kita hanya memberi perhatian kepada idea penting setiap perengan untuk mendapat gambaram umum. Idea-idea khusus sengaja diabaikan. Dalam pembacaan sesebuah buku pula. fokus kita diberikan kepada bahagian tertentu di dalam buku itu seperti pengenalan, prakata, isi kandungan, tajuk utama, rumusan pada akhir bab dan rujukan indeks untuk mendapat gambaran umum tentang perkara yang dibaca. Scanning ialah pembacaan cepat untuk mendapat maklumat yang khusus dan bukan untuk mendapat gambaran keseluruhan sesuatu bahan bacaan. Pembacaan cara ini boleh melangkau bahagian-bahagian tertentu yang difikirkan kurang penting. Ketika kita membaca, kita akan menggerakkan mata kita dari atas ke bawah dengan pantas mengikut muka surat petikan yang dibaca sambil menberi tumpuan kepada maklumat yang dicari. Oleh yang demikian, pembacaan cara ini adakah lebih cepat daripada pembacaan cara skimming. Dalam konteks pembelajaran, skimming dan scanning boleh digunakan bersama. Biasanya, kita boleh membaca cara skimming untuk menentukan kesesuaian sesuatu bahan bacaan. Jika bahan berkenaan itu didapati sesuai maka kita boleh menggunakan teknik scanning untuk mendapatkan maklumat khusus yang dicari.

Pandangan umum ini memberikan pandangan dalam penelitian ini bahwa demikian pentingnya fungsi membaca baik bagi tingkat lanjut ataupun bagi orang dewasa atau umum. Yang menjadikan bahan pertimbangan adalah apabila tingkat lanjut saja membutuhkan teknik skimming atau scanning yang didalamnya telah terkondisi dengan analisa dan sintesa untuk memperloleh tingkat penguasaan materi apalagi di sekolah dasar yang menjadi dasar bagi tingkat menengah.

Pada tingkat dasarlah semua hal dapat diperoleh dan sangat menentukan kemampuan pada tingkat berikutnya. Oleh karena itu dasar-dasar fundamental di pendidikan dasar harus dirumuskan dengan jelas, terarah, termotivasi dan memiliki visi dan misi kejiwaan yang tinggi sehingga pendidikan dasar yang dikatakan sebagai sekolah ibu (maternalistik) akan menjadi wahana bahkan fasilitas utama bagi wacana pengembangan khasanah pengetahuan anak pada usia yang lebih tinggi, dengan asumsi bahwa semakin siswa menguasai apa yang dibacanya maka akan semakin tinggi prestasi belajarnya. Metoda belajar yang akan digunakan dengan pendekatan SAS, sebagai bagian dari teknik skimming dan scanning yang telah diujikan pada tingkat sekolah menengah dan tinggi.


DAFTAR PUSTAKA
  1. Akhadiah. Sabarti, dkk. 1992/1993. Bahasa Indonesia III. Jakarta. Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
  2. Andayani, dkk. 2009. Materi Pokok Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta. Universitas Terbuka.
  3. Darmiyati. Zuchdi, dkk. 1999/2000. Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta. Dirjen dikti. Depatemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
  4. Depdiknas, 2003. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.
  5. Depdiknas. 2006. Kurikulum KTSP Kelas I. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.
  6. Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis. 1983. Petunjuk Khusus Bidang Pengajaran Bahasa Indonesia Buku II Pengembangan dan Pengadminstrasian Program. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  7. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. 1991/1992. Petunjuk Pengajaran Membaca dan Menulis Kelas I di Sekolah Dasar. Jakarta. P2MSK.
  8. Mikarsa, Hera Lestari, dkk. 2007. Materi Pokok Pendidikan Anak di SD Edisi 1. Jakarta. Universitas Terbuka.
  9. Puji Santoso, dkk. 2009. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta. Universitas Terbuka.
  10. Rusna Ristasa Augusta. 2010. Pedoman Penyusunan Laporan Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Departemn Pendidikan Nasional. Jakarta. Universitas Terbuka.
  11. St. Y. Slamet. dkk. 1996. Peningkatan Keterampilan Bahasa Indonesia (Bahasa Lisan Dan Bahasa Tertulis). Surakarta. D II/Semester I/3 SKS. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
  12. Sumantri, Mulyani, 2001. Strategi Belajar Mengajar. Bandung. CV Maulana.
  13. Suyatno. H. Dkk. 2008. Indahnya Bahasa Dan Sastra Indonesia. Jakarta. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
  14. Tarigan. Djago. Drs. dkk. 2006. Materi Pokok Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta.Universitas Terbuka.
  15. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Depdiknas.
  16. Wardhani, I Gak, dkk. 2007. Penelitian Tindkaan Kelas. Jakarta. Universitas Terbuka.
  17. Winataputra, H. Udin S. dkk.2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Universitas Terbuka.

Data di update tanggal 17 Pebruari 2013

Friday, May 18, 2012

Pengertian, Jenis dan Tujuan Membaca

Pengertian, Jenis dan Tujuan Membaca

Apa khabar sobat semuanya, berikut ini akan saya share mengenai study pustaka yang saya lakukan pada saat membuat kerangka penelitian tindakan kelas berjudul "Membaca untuk meningkatkan prestasi belajar Bahasa Indonesia di SD Kelas 1", diantaranya saya persiapkan hal-hal tentang hakekat, pengertian dan tujuan Membaca seperti berikut ini:

  1. Hakikat Membaca
  2. Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif. Karena dengan membaca seseorang akan dapat memperoleh informasi, ilmu pengetahuan, dan pengalaman-pengalaman baru. Semua yang diperoleh melalui bacaan akan memungkinkan orang tersebut mampu memperluas daya pikirnya, mempertajam pandangannya, dan memperluas wawasannya. Dengan demikian kegiatan membaca merupakan kegiatan yang sangat diperlukan oleh siapapun yang ingin maju dan meningkatkan diri. Membaca merupakan salah satu kunci utama untuk memasuki istana ilmu, berperan sebagai landasan yang mantap serta kegiatan yang menyajikan sumber-sumber bahan yang tak pernah kering bagi berbagai aktifitas ekpresif dan produktif dalam kehidupan sehari-hari. (Amir, 1996:26).

    Pembelajaran membaca memang mempunyai peranan penting sebab melalui pembelajaran membaca, guru dapat mengembangkan nilai-nilai moral, kemampuan bernalar dan kualitas anak didik. (Akhadiah, 1992:29). Membaca bukanlah sekedar menyuarakan lambing-lambang tertulis tanpa mempersoalkan rangkaian kata-kata atau kalimat yang dilafalkan tersebut dipahami atau tidak, melainkan lebih dari itu. Tingkatan membaca seperti itu tergolong jenis membaca permulaan. Pembelajaran membaca di kelas I dan kelas II merupakan pembelajaran membaca permulaan (tahap awal). Kemampuan membaca yang diperoleh siswa kelas I dan kelas II akan menjadi dasar pembelajaran membaca lanjut. Oleh sebab itu pembaca permulaan benar-benar memerlukan perhatian guru supaya dapat memberikan dasar yang kuat, sehingga pada tahap membaca lanjut siswa sudah memiliki kemampuan membaca yang memadai. Di sekolah dasar membaca dan menulis merupakan faktor utama yang perlu dilatih dari dini. Dengan membaca dan menulis kita bisa mengikuti perkembangan pembelajaran di segala bidang. Tidak hanya dalam pembelajaran bahasa saja.

    Pada hakikatnya, aktifitas membaca terdiri dari dua bagian, yaitu membaca sebagai proses dan membaca sebagai produk. Membaca sebagai proses mengacu pada aktifitas fisik dan mental. Sedangkan membaca sebagai produk mengacu pada konsekuensi dari aktifitas yang dilakukan pada saat membaca. Proses membaca sangat kompleks dan rumit karena melibatkan beberapa aktifitas, baik berupa kegiatan fisik maupun kegiatan mental. Proses membaca terdiri dari beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut adalah:

    1. Aspek Sensori, yaitu kemampuan untuk memahami simbol-simbol tertulis,
    2. Aspek Perseptual, yaitu kemampuan untuk menginterpresentasikan apa yang dilihat sebagai simbol,
    3. Aspek Skemata, yaitu kemampuan menghubungkan informasi tertulis dengan struktur pengetahuan yang telah ada,
    4. Aspek Berpikir, yaitu kemampuan membuat inferensi dan evaluasi dari materi yang dipelajari,
    5. Aspek Afektif, yaitu aspek yang berkenaan dengan minat pembaca yang berpengaruh terhadap kegiatan membaca.

  3. Pengertian Membaca
  4. Membaca adalah usaha memahami bacaan sebaik-baiknya; jika teks yang dilafalkan maka pembelajarannya jelas dan fasih, tepat informasi dan penjedaannya, sehingga komunikatif dengan pendengar, dan juga ditandai oleh suatu pemahaman teks. (Amir, 1996:2). Membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis dengan melisankan atau hanya di hati. (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, 2002:18). Membaca adalah merupakan perbuatan yang dilakukan berdasarkan kerjasama beberapa keterampilan, yakni mengamati, memahami dan memikirkan. (Yasin Burhan, 1971:90). Menurut Ronald Barker dan Robert Ekskarpit (1975:155), membaca merupakan penangkapan dan pemahaman ide, aktifitas pembaca yang diiringi curahan jiwa dalam menghayati naskah. Setelah proses yang bersifat mekanis tersebut berlangsung, maka nalar dan intuisi kita bekerja pula, berupa proses pemahaman dan penghayatan. Dengan penghayatan, pembaca berarti telah pula merasakan nuansa naskah sehingga bisa pula melangsungkan perenungan. Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. (H.G. Taringan, 1985:7). Menurut Ahmad S Harja Sujana (1985:3) menyatakan bahwa membaca merupakan kegiatan yang merespon lambing-lambang tertulis dengan menggunakan pengertian yang tepat.

    Semua pengertian di atas benar, hanya masalahnya dari sudut manakah kita memandang dan dalam konteks apa. Membaca yang hanya terbatas pada pembunyian lambang tertulis dan pelafalan kata tanpa harus memahami naskah dinamakan membaca permulaan. Membaca yang sudah berusaha untuk memahami bacaan dinamakan membaca lanjut. (Tim Penyusun Kamus Pusat Indonesia, 2002:8). Jadi muara akhir kegiatan membaca adalah memahami ide atau gagasan yang terkuat, tersirat bahkan tersorot dalam bacaan. Dengan demikian pemahamanlah yang menjadi produk membaca yang bisa diukur. Selain fakta penangkapan dan pemahaman, membaca juga mementingkan ketepatan dan kecepatan. Idealnya, kita bisa membaca dalam waktu yang singkat untuk bahan relative banyak, dengan tingkat pemahaman yang tinggi dan selaras dengan maksud penulis. Aktifitas membaca membutuhkan pula kompetensi / kemampuan bahasa, kecerdasan tertentu dan referen kehidupan yang luas. Faktor-faktor yang mendasar tadi, tidak bersifat statis melainkan menulis harus semakin bertambah karena kegiatan membaca, disamping lantaran aktifitas yang lain. Pada saat kita aktif membaca, referen kehidupan, intelektualitas dan khazanah kata, kita pun meningkat artinya semakin aktif kita membaca maka akan semakin tinggi pengetahuan yang kita dapatkan.

  5. Jenis-jenis Membaca
    Berdasarkan cara membaca, membaca dibedakan menjadi:
    1. Membaca Bersuara (membaca nyaring).
      Yaitu membaca yang dilakukan dengan bersuara, biasanya dilakukan oleh kelas tinggi / besar. Sebenarnya apabila kita berpegang pada batasan-batasan tentang membaca, semua perbuatan membaca tentu saja kedengaran orang lain. Perbedaannya terletak pada persoalan berapa jauh suara bacaan dapat didengar orang lain. Istilah membaca keras maksudnya membaca dengan suara nyaring. Oleh karena itu adalah istilah, "membaca nyaring". Mengapa harus bersuara keras atau nyaring karena perlu didengar oleh orang lain. Biarpun membaca untuk diri sendiri, bagi anak kelas I mempunyai kebiasaan keras atau nyaring. Tujuan membaca keras agar guru dan kawan sekelas dapat menyimak. Dengan menyimak guru dapat memperbaiki bacaan siswa. Pelaksanaan membaca dapat memperbaiki bacaan siswa. Pelaksanaan membaca keras bagi siswa Sekolah Dasar dilakukan seperti berikut:
      1. Membaca Klasikal
        Yaitu membaca yang dilakukan secara bersama-sama dalam satu kelas. Membaca klasikal biasa dilaksanakan di kelas I. Dengan tujuan supaya anak yang belum lancar membaca bisa menirukannya lebih dahulu.
      2. Membaca Berkelompok
        Yaitu membaca yang dilakukan oleh sekelompok siswa dalam satu kelas. Biasanya dilakukan secara berderet. Satu deret dijadikan satu kelompok. Dengan membaca kelompok guru dapat memperhatikan lebih serius (khusus) anak-anak yang sudah lancar membaca ataupun yang belum lancar membaca. Bagi anak-anak yang belum lancar membaca biasanya cenderung diam (tidak menirukan).
      3. Membaca Perorangan
        Yaitu membaca yang dilakukan secara individu. Membaca perorangan diperlukan keberanian siswa dan mudah dikontrol oleh guru. Biasa dilaksanakan untuk mengadakan penilaian.
    2. Membaca dalam Hati
      Membaca dalam hati yaitu membaca dengan tidak mengeluarkan kata-kata atau suara. Dengan membaca dalam hati siswa dapat lebih berkonsentrasi, sehingga lebih dapat memahami isi yang terkandung dalam sebuah bacaan. Membaca dalam hati sebenarnya membaca bagi orang dewasa atau orang tua. Tidak semua siawa SD dapat membaca dalam hati. Membaca dalam hati siswa SD tetap dilakukan dengan membaca bersuara atau membaca secara berbisik-bisik. Tidak dapat dilaksanakan secara sempurna. Khusus kelas I dan kelas II tidak ada pembelajaran membaca dalam hati. Kelas III-IV dapat dilatih membaca dengan suara bisik-bisik. Sedang kelas V-VI dapat membaca dalam hati secara lebih baik.
      Tujuan pembelajaran membaca dalam hati agar siswa dapat:
      1. berkonsentrasi fisik dan mental
      2. membaca secepat-cepatnya
      3. memahami isi
      4. menghayati isi
      5. mengungkapkan kembali isi bacaan.
      Konsentrasi fisik maksudnya siswa (pembaca) dapat bebas sikap duduknya. Pandangan mata teramat pada seluruh kalimat yang akan dibaca sebelum mengucapkan (dalam hati) kalimat itu. Konsentrasi mental yaitu memerlukan ekstra penilaian. Pemikiran kita harus tertuju pada bacaan yang sedang dihadapi. Tidak boleh membaca dalam hati dengan pemikiran yang gundah dan kacau. Hasilnya pasti yidak maksimal, bahkan sering tejadi melamun, membayangkan apa yang ada pada angan-angan. Hal ini sering terjadi dan tidak diketahui oleh seorang guru, karma sama-sama dengan posisi diam. Membaca dalam hati juga berusaha membaca secepat-cepatnya. Antara anak satu bangku saja bisa selesainya tidak secara bersamaan, tergantung konsentrasi si pembaca tersebut. Waktu yang dibutuhkan akan lebih sedikit. Siswa pun akan lebih terkondisi, dengan membaca dalam hati, anak-anak tidak ada yang bermain sendiri. Membaca dalam hati dapat menarik minat para siswa agar lekas mengetahui atau memahami isi bacaan. Apabila latihan membaca dalam hati kerap dilaksanakan akan dapat meninbulkan suasana demonstratif dari para siswa untuk lekas dapat mengungkapkan kembali isi bacaan. Pemahaman isi tidak melalui pendengaran terlebih dahulu.
    3. Membaca teknik
      Membaca teknik hampir sama dengan membaca keras. Pembelajaran membaca teknik meliputi pembelajaran membaca dan pembelajaran membacakan. Membaca teknik lebih formal, mementingkan kebenaran pembaca serta ketepatan intonasi dan jeda. Dengan mengacu pada pelafalan yang standar, kegiatan membaca teknikser langsung memasuki kegiatan pembaca berita, pengumuman, ceramahi, berpidato, dsb. ( Amin ; 1996 : 28 ). Pembelajaran membaca dimaksudkan agar siswa dapat membaca untuk keperluan diri sendiri dan untuk keperluan siswa lain. Pembaca lebih bertanggung jawab kepada lafal dan lagu, serta isi bacaan. Pembelajaran membacakan pembaca bertanggung jawab atas lagu dan lafal. Tetapi kurang bertanggun jawab akan isi bacan. Yang lebih baik akan isi bacaan ialah pendengar atau para pendengarnya. Membaca teknik ialah cara membaca yang mencakup sikap, dan intonasi bahasa.
      Latihan-latihan yang diperlukan diantaranya :
      • Latihan membaca di tempat duduk.
      • Latihan membaca di depan kelas.
      • Latihan membaca di mimbar.
      • Latihan membacakan. ( Depdiknas ; 2002 : 44 )
      Untuk itu jenis-jenis membaca yang perlu dikembangkan di dunia pendidikan berdasarkan tekniknya adalah :
      1. Membaca intensif
        Membaca intensif menitik beratkan pada persoalan pemahaman yang mendalam, pemahaman ide-ide naskah dari ide pokok sampai ide penjelas. Pada umumnya menggunakan objek kajian karya-karya ilmiah seperti buku pelajaran perkuliahan, hanya analisis, dsb. ( Amin ; 1996 : 27 ).
      2. Membaca kritis
        Membaca krirtis merupakan tahapan lebih jauh dari pada membaca intensif, dan dianggap sebagai kegiatan membaca yang bertataram lebih tinggi. Hal ini karena ide-ide buku yang telah dipahami secara baik dan detail, perlu respons (ditanggapi/dikomentari), bahkan dianalisis. Membaca kritis mensyaratkan pembacanya bersikap cermat, teliti, korektif, bisa menemukan kesalahan dan kejanggalan dalam teks, baik dilihat dari sudut isi maupun bahasanya, serta mampu pula membetulkan kesalahan-kesalahan itu. Membaca kritis sangat dibutuhkan sebagian landasan dan untuk kepentingan penulisan resensi buku, kritik sastra, analisis bacaan ilmiah dan sastra serta pembuatan mamakalah banding. Objek kajian membaca kritis tidak terbatas pada karya-karya ilmiah saja, buku-buku sastrapun dapat digunakannya. Pembaca kritis diminta menegakkan sikap objektif dan sportivitas serta cukup punya keterbukaan dan kedinamisan. ( Amin ; 1996 : 27 ).
      3. Membaca cepat
        Membaca cepat penting kita kuasai berkenaan dengan perolehan informasi-informasi keseharian. Membaca cepat dilaksanakan secara zig-zag atau vertical, punya prinsip melaju keras. Membaca cepat hanya mementingkan kata-kata kunci atau hal-hal yang penting saja, ditempuh dengan jalan melompat kata-kata dan ide penjelas.
      4. Membaca apresiatif dan membaca estetis
        Dua kegiatan membaca ini agak bersifat khusus karena berhubungan dengan nilai-nilai efektif dan factor intensis/perasaan. Objek kajiannya terutama hanya sastra serta bacaan-bacaan lain yang ditukis denfgan bahasa yang indah. Tujuannya adalah pembinaan sikap apresiatif, suatu penghayatan dan penghargaan terhadap nilai-nilai kaindahan dan nilai-nilai kejiwaan (spiritual). Merekapun demikian, factor pemahaman makna teks juga tidak boleh diabaikan sebab hakikat membaca memanglah memahami maksud yang terkandung dalam naskah.
        Membaca apresiatif kita lakukan, karena kita menyadari bahwa buku-buku agama filsafat, buku-buku pendidikan dan psikologi, sungguh perlu didekati dengan sikap apresiatif, sikap penuh kecintaan dan penghayatan. Khusus membaca estetis, ia perlu disesuaikan dengan pelafalan yang jelas dan fasil, serta berirama tertentu. Yang penting, naskah atau hanya sastra yang dibaca itu terasa lebih hidup serta mampu menyentuh batin dan rasa haru pembaca ( Amin ; 1996 : 28 ).
      Berdasarkan tujuan khusus membaca dibedakan menjadi :
      1. Membaca indah
        Membaca indah ialah membaca yang amengutamakan keindahan bahasa atau keindahan bacaan. Pembelajaran membaca indah selalu teringat kepada pembelajaran kesusastraan. Pembelajaran membaca indah tidak dialog, drama dan pantun. Sebagaimana kita ketahui bahwa cakapan bahasa yang menggunakan kalimat-kalimat langsung termasuk bahasa indah. Pembelajaran bahasa indah dapat mengarahkan kepada siswa agar dapat menghayati dan menjiwai isi bacaan. Bagi siswa-siswa SD latihan melagukan kalimat-kalimat berita, kalimat perintah, kalimat Tanya dengan bermacam situasi termasuk latihan membaca indah.
      2. embaca pustaka
        Tujuannya agar siswa dapat menambahkan dan mengembangkan pengetahuan mereka disamping pelajaran-pelajaran yang diterima dari guru. Dari pembelajaran bahasa, kegiatan membaca perpustakaan juga dapat menambah pengetahuan siswa tentang kakayaan kosakata kita ( Depdiknas ; 2002 : 44 ).
      3. Membaca bebas,
        Yang dimaksud membaca bebas ialah kegiatan membaca disekolah apabila ada waktu senggang. Waktu senggang ialah waktu-waktu pelajaran yang kosong dan istirahat. Buku bacaan untuk mengisi waktu kosong adalah Koran, majalah, komik dan buku perpustakaan. ( Depdiknas ; 2002 : 44 ).

Tujuan, Fungsi dan Manfaat Membaca

  1. Tujuan membaca
    Tujuan membaca secara umum yaitu mampu membaca dan memahami teks pendek dengan cara lancar atau bersuara beberapa kalimat sederhana dan membaca puisi ( Depdiknas ; 2004 : 15 ).
    Menurut kurikulum 1994 tujuan membaca yaitu :
    1. Mampu memahami gagasan yang didengar secara langsung atau tidak langsung.
    2. Mampu membaca teks bacaan dan menyimpulkan isinya dengan kata-kata sendiri.
    3. Mampu membaca teks bacaan secara cepat dan mampu mencatat gagasan-gagasan utama ( Depdiknas ; 1994 : 18 ).
    Jadi tujuan akhir membaca intinya adalah memahami ide, kemampuan menangkap makna dalam bacaan secara utuh, baik dalam bentuk teks bebas, narasi, prosa ataupun puisi yang disimpulkan dalam suatu karya tulis ataupun tidak tertulis.

  2. Fungsi Membaca
    Kegiata membaca yang merupakan jantungnya pendidikan memiliki fungsi sebagai berikut:
    1. Fungsi Intelektual
      Dengan banyak membaca kita dapat meningkatkan kadar intelektualitas, membina daya nalar kita. Contoh : membaca buku-buku pelajaran, karya-karya ilmiah, laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi, dll. (Amir, 1996:4)
    2. Fungsi Pemacu Kreatifitas
      Hasil membaca kita dapat mendorong, menggerakkan diri kita untuk berkarya, didukung oleh keluasan wawasan dan pemilihan kosa kata. Contoh : buku ilmiah, bacaan sastra, dll.
    3. Fungsi Praktis
      Kegiatan membaca dilaksanakan untuk memperoleh pengetahuan praktis dalam kehidupan, misal: teknik memotret, teknik memelihara ikan lele, resep membuat minuman dan makanan, cara merawat tanaman, dll.
    4. Fungsi Religious
      Membaca dapat digunakan untuk membina dan meningkatkan keimanan, memperluas budi, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
    5. Fungsi Informatif
      Dengan banyak membaca bacaan, informasi lebih cepat kita dapatkan. Contoh: dengan membaca majalah dan Koran dapat kita peroleh berbagai informasi yang sangat penting atau kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari.
    6. Fungsi Rekreatif
      Membaca digunakan sebagai upaya menghibur hati, mengadakan tamasya yang mengasyikkan. Contoh: bacaan-bacaan ringan, novel-novel, cerita humor, fariabel karya sastra, dll.
    7. Fungsi Sosial>br/> Kegiatan membaca mempunyai fungsi social yang tinggi manakala dilaksanakan secara lisan atau nyaring. Dengan demikian kegiatan membaca tersebut langsung dapat dimanfaatkan oleh orang lain mengarahkan sikap berucap, berbuat dan berpikir. Contoh: pembacaan berita, karya sastra, pengumuman, dll.
    8. Fungsi Pembunuh Sepi
      Kegiatan membaca dapat juga dilakukan untuk sekedar merintang-rintang waktu, mengisi waktu luang. Contoh: membaca majalah, surat kabar, dll. (Amir, 1996:5)

  3. Manfaat Membaca
    Selain fungsi tersebut diatas, kegiatan membaca mendatangkan berbagai manfaat, antara lain:
    1. Memperoleh banyak pengalaman hidup.
    2. Memperoleh pengetahuan umum dan berbagai informasi tertentu yang sangat berguna bagi kehidupan.
    3. Mengetahui berbagai peristiwa besar dalam peradaban dan kebudayaan suatu bangsa.
    4. Dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir di dunia.
    5. Dapat mengayakan batin, memperluas cakrawala pandang dan piker, meningkatkan taraf hidup, dan budaya keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa.
    6. Dapat memecahkan berbagai masalah kehidupan, dapat mengantarkan seseorang menjadi cerdik dan pandai.
    7. Dapat memperkaya perbedaan kata, ungkapan, istilah, dll yang sangat menunjang keterampilan menyimak, berbicara dan menulis.
    8. Mempertinggi potensialitas setiap pribadi dan mempermantap desistensi, dll. (Amir, 1996: 6)
    Demikian besar manfaat yang dapat dipetik dari kegiatan membaca. Emerson, seorang filosof kenamaan yang mengharapkan setiap orang (termasuk pelajar) dapat membiasakan diri sebagai pembaca yang baik. Dengan kebiasaan itu seseorang dapat menimba berbagai pengalaman dan pengetahuan, moral, peradaban, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi dapat sampai pada tingkat perkembangannya yang sekarang ini merupakan akibat langsung dari pembacaan buku-buku besar. Hal di atas dipertegas lagi oleh Lin Yut'ang seorang filosof terkenal Cina yang menyatakan bahwa orang yang tidak mempunyai kebiasaan membaca yang baik, akan terpenjara dalam dunianya, baik dalam segi waktu dan ruang. Hal ini berarti ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang terjadi pada lingkungan dekatnya dan hanya berhubungan dengan orang-orang tertentu saja. Dengan demikian semakin aktif seseorang membaca maka akan semakin tinggi pengetahuan yang didapatkan, tidak terpenjara dalam dunianya.

  4. Kebiasaan dalam Membaca
    1. Kebiasaan yang baik diantaranya:
      1. Berkonsentrasi penuh terhadap bahan bacaan.
      2. Pada saat membaca membawa alat tulis untuk membuat tanda-tanda, catatan kesil, atau rangkuman dan semacamnya.
      3. Membaca secara berencana, teratur, dan sistematis.
      4. Sikap yang baik pada saat membaca dan mengatur jarak mata dengan buku + 25-30 cm.
      5. Menjaga kesehatan jasmani maupun rohani, terlebih lagi kesehatan mata yang merupakan alat penting dalam aktifitas baca.
      6. Rajin memanfaatkan jasa perpustakaan secara pribadi.
      7. Setiap kali membaca 1-2 jam, seyogyanya beristirahat.
    2. Kebiasaan yang kurang baik dalam membaca terutama membaca pada tingkat lanjut:
      1. Membaca dengan bersuara atau vokalisasi / subvokalisasi.
      2. Membaca dengan bibr bergerak, atau komat-kamit seperti pembacaan mantra.
      3. Membaca dengan menggerakkan kepala mengikuti baris bacaan dari kiri ke kanan.
      4. Membaca dengan menunjuk baris bacaan dengan jari, pensil, atau alat lainnya.
      5. Membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat.
      6. Regresi : mengulangi kata-kata yang telah dibaca.
      7. Terlalu banyak memperhatikan butir demi butir informasi sehingga gagal memberikan makna bacaan secara utuh, menemukan ide pokok.
      8. Kebiasaan membaca terlalu cepat sehingga kurang memperhatikan kata-kata kunci. Perolehan makna tidak sesuai dengan maksud penulis sehingga menyebabkan salah tafsir.
      9. Pandangan tentang suatu topic sangat kuat sehingga dalam menafsirkan teks hanya menurut pandangan dan pengalaman diri sendiri bukan apa sebenarnya yang dimaksud dalam teks.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Akhadiah. Sabarti, dkk. 1992/1993. Bahasa Indonesia III. Jakarta. Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
  2. Andayani, dkk. 2009. Materi Pokok Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta. Universitas Terbuka.
  3. Darmiyati. Zuchdi, dkk. 1999/2000. Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta. Dirjen dikti. Depatemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
  4. Depdiknas, 2003. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.
  5. Depdiknas. 2006. Kurikulum KTSP Kelas I. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.
  6. Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis. 1983. Petunjuk Khusus Bidang Pengajaran Bahasa Indonesia Buku II Pengembangan dan Pengadminstrasian Program. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  7. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. 1991/1992. Petunjuk Pengajaran Membaca dan Menulis Kelas I di Sekolah Dasar. Jakarta. P2MSK.
  8. Mikarsa, Hera Lestari, dkk. 2007. Materi Pokok Pendidikan Anak di SD Edisi 1. Jakarta. Universitas Terbuka.
  9. Puji Santoso, dkk. 2009. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta. Universitas Terbuka.
  10. Rusna Ristasa Augusta. 2010. Pedoman Penyusunan Laporan Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Departemn Pendidikan Nasional. Jakarta. Universitas Terbuka.
  11. St. Y. Slamet. dkk. 1996. Peningkatan Keterampilan Bahasa Indonesia (Bahasa Lisan Dan Bahasa Tertulis). Surakarta. D II/Semester I/3 SKS. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
  12. Sumantri, Mulyani, 2001. Strategi Belajar Mengajar. Bandung. CV Maulana.
  13. Suyatno. H. Dkk. 2008. Indahnya Bahasa Dan Sastra Indonesia. Jakarta. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
  14. Tarigan. Djago. Drs. dkk. 2006. Materi Pokok Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta.Universitas Terbuka.
  15. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Depdiknas.
  16. Wardhani, I Gak, dkk. 2007. Penelitian Tindkaan Kelas. Jakarta. Universitas Terbuka.
  17. Winataputra, H. Udin S. dkk.2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Universitas Terbuka.

Data di update tangga; 17 Pebruari 2013


Tahukah Anda bagaimana menjadi marketter yang bijak,hebat dan tepat?
daftarkan segera hari ini silahkan klik img bergoyang dibawah!!!

Formula Bisnis ClickBank
Marilah Tukar Link Untuk Meningkatkan Performance Blog/Web dengan membuka tombol berikut untuk melihat link Anda yang "Sukses!!!" :

Tukar Link Untuk Meningkatkan Performance Blog/Web

Mari kita tukar link secara otomatis untuk meningkatkan rank kita bersama.
Terima kasih atas kebersamaannya untuk menjalin kesetiakawanan,seia dan sekata kita.
Masuklah Anda ke Contact Formuntuk tukar link atau
untuk cek link-bunner sahabat di Link Partner atau kesini saja Kapten untuk silaturahmi bersama teman lainnya.
Adapun link saya seperti berikut ini:
<a href="http://s-surya62.blogspot.com"title="Free blog tutorials on toko information HTML and CSS"target="_blank">Info Toko Surya62</a>



Join Wazzub Now

Silahkan masukkan kode HTML(bebas)jangan lebih dari 50 baris,kemudian klik"convert",
maka akan didapat kode HTML yang siap di posting dan selanjutnya Anda hanya mencopy hasilnya.
Editlah pada program notepad atau wordpad terlebih dahulu ya...

bisnis syariah

Apabila anda ingin menkonvert lengkap encoding dan decoding online
silahkan kunjungi situs Encode/Decode HTML Entities kesini
Salam Pershabatan Selalu dari saya di Info Toko Surya62

MARI MAJU BERSAMA MEMBANGUN BANGSA DENGAN AKHLAQUL KARIMAH
Online Job for All. Work from home computer.